Jumat, 21 November 2008

that's PENDIDIKAN INDONESIA

PENDIDIKAN DAN PROFESI PENDIDIK

(THE REAL STORY)


Tak ku sngka dunia pendidikan di Indonesia ini memang sungguh tak berdaya wajib belajar 9 tahun pun menjadi hal begitu mustahil bagi rakyat Indonesia, sedih pilu yang kurasa hal inilah yang menjadi aku enggan menjadi seorang pendidik, ya enggan menjadi seorang leader di kelas.
Bukan meremehkan jasa-jasa para pengajarku bahkan ayah dan ibuku yang juga seorang guru, dahulu saat aku baru tingkat sekolah dasar aku menjenguk salah seorang guru yang baik hati, beliau dimataku sungguh sangat aku teladani ramah, dan sangat tulus mengajar, namun apa yang ku dapati sungguh ironi, buguruku, guru tercintaku menepati kontarakan yang sungguh sangat kecil, walaupun kehidupanku juga saat itu tidak jauh dari realita tersebut, dan saat itu pula aku berpandangan betapa menyedihkan menjadi seorang guru, kehidupan yang jauh dari kata berkecukupan . Tidak hanya itu menjadi seorang guru adalah seseorang akan menjadi panutan bagi semua orang yang berada disekelilingnya, melakukan hal yang sedikit melenceng dari normapun akan menjadi bahan untuk dicaci maki padahal hal itu hanyalah hal yang sangat sepele,.

Masih teringat dalam benakku, saat kedua orang tuaku akan merevarasi rumah, kebetulan saat itu kami baru menepati lingkungan yang baru, ya mungkin kurang lebih sekitar 2 tahun, dan saat itu baru ibuku saja yang menjadi guru sedangkan ayahku adalah pegawai swasta. Penduduk sekitarpun tahu tentang hal tersebut karena ibu mengajar di sekolah dekat rumah. Seperti layaknya akan merevarasi rumah ayah memesan pasir satu mobil bak terbuka, kami tidak tahu kalau ada peraturan yang menurunkan pasir adalah hak dari warga setempat, padahal pihak dari material telah mengirmkan pesuruhnya untuk menurunkan pasir. Pada saat itulah dimulai perselisihan hingga pengancaman dengan kata-kata yang sangat-sangat kotor.dan kurang lebih seperti ini kata-katanya ”Dasar Guru keparat, seharusnya seorang guru itu tahu tentang norma-norma, bukannya menjadi teladan malah bikin susah orang ” . dalam hatiku saat itu betapa mudahnya orang mencaci maki profesi seorang guru, padahal mereka bisa membaca ataupun menulis adalah jasa dari seorang guru, dan dari sinilah aku enggan menjadi seorang guru, sungguh kecil sekali penghormatan yang dilayangkan pada seorang guru.
Selain dari sisi kehidupan pengajar, Pendidikan di Indonesia sungguh sangat terpuruk, aku tahu Negara kita ini masih belum ada satu abad merdeka, dan masih perlu banyak perbaikan disana-sini, namun apakah adil ataupun bijaksana sector pendidikan yang menjadi fondasi utama disisisihkan sangat jauh, hingga melapuk tiada perubahan, tak perlu mencari-cari saat mata terbuka menyapa pagi, sudah ada banyak anak-anak jalanan yang berteriak “apakah yang harus perbuat kakak, aku mau sekolah, namun kalau ayah tak memilki uang aku harus bagaimana?’itulah jeritan halus dari semua anak jalanan yang aku jumpai, hanya uang ribuan saja yang bisa membuat mereka tersenyum mengobati sedikit kerinduan akan dunia sekolah. Dan kini akulah yang berteriak kemana pemerintah? kemana semua orang? Kemana?kemana? sungguh tega mereka menutup mata dan telinga mereka akan semua ini.

Lain ladang lain belalang mungkin masalah ekonomi yang terkadang menjadi batu sandungan yang terbesar adalah penghalang utama kenapa anak-anak Indonesia tak meneruskan sekolah, namun untuk kali ini masalah ekonomi bukanlah yang menjadi satu-satunya mengapa pendidikan di Indonesia ini mandek atau tak ada perubahan, melainkan pola berfikir para wali siswa yang terkadang acuh dengan masa depan anaknya sendiri, yang egois dengan perasaan masing-masing tanpa berpaling dan menatapi akan kehidupan kelak anak-anak mereka. Kau tau aku saat ini adalah tutor salah satu PKBM di tempatku tinggal. Miris sekali saat aku dengar cerita dua anak didikku Fitri dan Aldo. Pertama simaklah sejenak curahan hati fitri kecilku…fitri gadis manis yang berusia mungkin tak lebih dari 14 tahun, senyum yang tulus membuatku nyaman dan ingin sekali tahu sosok akannya, dengan berjilbab santun dia mulai menceritakan kehidupannya yang begitu mengiris hati.

“kak, aku fitri sebenarnya itu bukan nama asliku nama itu memang sengaja dirubah oleh seseorang yang menyayangiku saat ini atau yang ku sebut UMI, kata Umi fitri berarti kembali suci atau kembali dari awal, ya dari awal membuka lembaran hidup baru”dengan senyumnya tulus, dia melanjutkan ceritanya,”dulu aku tinggal dengan ayah dan ibu mungkin saat aku duduk dibangku SD kelas 3 karena aku sudah lupa kapan aku terakhir sekolah, aku seperti kebanyakan anak lainnya punya seorang ayah dan seorang ibu yang sebentar lagi juga akan mempunyai seorang adik karena saat itu ibuku tengah hamil.dan kami hidup tanpa ada masalah yang berarti. Hingga pada suatu malam saat aku berada dikamar, aku dengar ayah dan ibu bertengkar, aku khawatir dengan adik yang berada dikandungan ibu, karena pada sat itu ayah jadi sering marah-marah yang tak jelas, dan tak segan memukul ibu, dan langsung pergi meninggalkan rumah. Namun malam itu aneh sekali tiba-tiba suasana menjadi hening mungkin ayah telah pergi seperti biasanya.akupun sedikit tenang dan kulanjutkan tidurku” sambil menghelang nafas, ku lihat pucat di di wajah fitri “ pagi datang, tiba-tiba rumahku mendadak ramai sekali, aku saat itu tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi ‘neng ibumu ditusuk orang, ibumu dan bayi yang ia kandung meninggal’ salah satu tetangga mengonjang tubuhku, meyadarkanku apa yang aku lihat didepan mataku saat itu, ibu berlinang darah….ibu berlinang darah” kini fitri tertunduk diam “tapi kak, aku tahu siapa yang membunuh ibuku, dialah ayahku…ayahku…orang yang pergi begitu saja pergi ke Batam tanpa memperdulikan aku, orang yang saat itu menjadi buronan polisi, orang yang membunuh ibu dan adikku, orang yang hanya aku saja yang tahu kalau dia yang membunuh ibuku, dan sampai saat itu tak ada satupun yang tahu siapa pembunuh ibuku, hanya aku saja yang tahu” entah perasaan apa ini aku hanya bisa menatap mata yang tadi bercahaya kini berubah berkaca-kaca.

Setelah mendengarkan kisah fitri gadis manis itu, aku mencoba untuk tetap menjadi seorang tutor yang baik, yakni tidak terlalu memperlihatkan mimik muka yang berlebihan, namun sebenarnya dalam hati kecilku aku benar-benar merasa pilu mendengarkan ceritanya, mengapa ayahnya tak pernah berfikir tentang anaknya, tentang masa depan anaknya, tentang bagaimana nasib gadis kecil yang saat ini berada didepanku. yaitu Fitri.

Kini giliran Aldo yang bercerita “ aku Aldo bu eh kakak….hehehe” dengan gayanya yang nyeleneh, dan sedikit aku paksakan akhirnya Aldo bercerita tentang dirinya “aku tinggal sama bude orang yang nyekolahin dan biayain aku, eh ga usah nanya soal orang tuaku ataupu kakakku ya bu eh kakak, soalnya ya gitu dech saat kedua orang tuaku bercerai, dan ayah menikah lagi, terus ibu juga menikah lagi sama orang lain. Aku milih tinggal sama bude, awalnya aku tinggal sama ayah tapi kayaknya istrinya ga suka sama aku, kemudian aku pindah tinggal dirumah ibu, tapi ibu kayaknya udah ga peduli lagi sama aku dia lebih peduli sama anak hasil perkawinannya yang baru. Terkadang aku BT banget kenapa semua ga adil sama aku, ga ada yang memperhatikan aku, hingga akhirnya aku sering bolos sekolah, sampai dikeluarkan” aldo terdiam dan tiba-tiba pandangannya berpaling keluar jendela.” Lalu” dia mencoba meneruskan katanya”lalu aku jadi ikutan gaya hidup kakak kandungku yang gila and stress, aku mencoba minum-minuman keras…tapi cuma sedikit kok bu” entah tiba-tiba aku jadi tersenyum melihat gaya bicaranya. “ aku juga pernah nongrong dan ikutan tawuran…..karena aku kepengen jadi kayak kakakku, dia yang mabok narkoba aja bisa ke Malaysia dan Singapura” Namun untuk kali ini aku memotong cerita Aldo, untuk menunjukkan aku tidak setuju dengan jalan pikirannya aku pun mencoba menasehatinya dengan menggodanya ‘kamu mau kayak kakakmu, oke saat itu kakakkmu lagi mujur bisa jalan-jalan keluar negeri dengan bekal sakaunya tanpa ada masalah. Tapi coba aja kamu ikut-ikutan kayak kakakmu bukannya pergi ke bandara untuk naek pesawat keluar negeri, malahan jangan-jangan kamu udah nyampe duluan pergi ke liang lahat’ memang dasar Aldo cowok imut yang nyeleneh ini tiba-tiba ketawa berbahak-bahak saat mendengar nasehatku. “ iya…iya bu eh kak….berati aku masih punya pilihan kan kak untuk pergi keluar negeri tapi ga kayak kakakku” yup…..angguk mantapku.

Itulah kisah kehidupanku diseputar pendidikan, Pendidkan yang masih begitu rapuh, Pendidikan yang tidak semua menikmatinya, Pendidikan yang seharusnya di utamakan, di beri perhatian, di beri nutrisi agar semua pihak dapat memahami betapa pentingnya sector pendidikan. Agar dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan sebagai seorang guru, bukan terus menjadi Pahlawan tanpa tanda Jasa yang terus diremehkan pengabdiannya, Agar semua anak – anak yang putus sekolah karena tidak mampu membayar dapat menikmati dunia sekolahnya tanpa terbebani uang gedung, SPP, dan uang pungutan lain. Dan Agar semua orang tua ataupun siapapun sadar dan “melek” akan pentingnya pendidikan bagi anak usia sekolah. Bukannya sibuk dengan semua urusan yang terkadang Hak sebagai anak terabaikan, yakni SEKOLAH





So keep fight wahai para penerus PENDIDIKAN…………TUNJUKKAN BAHWA PENDIDIKAN ITU MEMANG SANGAT PENTINg………dan Semoga aku menjadi seorang pendidik yang selalu berjalan di jalan ketulusan…………hanya ridho-MU ya ALLAH yang aku harapkan……...kuatkan hati …….
dheetha.